
Patung Pramuka yang berdiri di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ikon kepanduan di Jawa Barat. Berada di dekat pintu masuk kawasan Talaga Saat yang dikenal sebagai Titik Nol Sungai Ciliwung dan terletak di tepi Jalan Raya Puncak, monumen tersebut menempati lokasi yang sangat strategis dan mudah dilihat oleh masyarakat maupun wisatawan.
Selain memiliki nilai simbolis, kawasan Tugu juga menyimpan sejarah penting bagi perjalanan kepanduan Indonesia. Pada Januari 1957, wilayah tersebut menjadi lokasi penyelenggaraan Seminar Kepanduan Nasional yang mempertemukan berbagai organisasi kepanduan dari seluruh Indonesia. Seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Pandu Indonesia (Ipindo) itu menjadi salah satu tonggak penting dalam proses penyatuan gerakan kepanduan yang kemudian melahirkan Gerakan Pramuka pada tahun 1961.

Patung Pramuka yang memiliki tinggi sekitar dua meter tersebut dibangun oleh Kwartir Ranting (Kwarran) Gerakan Pramuka Cisarua pada tahun 1990 dan diresmikan oleh Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Bogor saat itu, Drs. Lasmana Suriaatmaja. Monumen tersebut didirikan sebagai simbol semangat pendidikan karakter, pengabdian, kepemimpinan, serta kecintaan terhadap alam dan bangsa.
Namun dalam perjalanannya, Patung Pramuka sempat mengalami masa kurang terawat dan terbengkalai. Penataan terakhir dilakukan pada tahun 2019 sehingga kondisinya saat ini masih relatif terjaga. Meski demikian, secara visual bentuk patung dinilai sudah tidak lagi mencerminkan semangat zaman dan perlu pembaruan agar tampil lebih representatif, modern, dan inspiratif.
Taufik Umar Prayoga, pegiat sejarah kepanduan Indonesia yang juga Andalan Binamuda Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Bogor, menilai revitalisasi Patung Pramuka menjadi langkah penting untuk mengangkat kembali nilai sejarah dan identitas kepanduan di kawasan tersebut.
“Patung Pramuka di Tugu memiliki nilai sejarah yang jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya. Lokasi ini berkaitan erat dengan proses penyatuan organisasi kepanduan Indonesia. Karena itu, sudah saatnya dilakukan revitalisasi agar keberadaannya tidak hanya menjadi monumen biasa, tetapi juga menjadi pusat edukasi sejarah kepanduan yang menarik bagi masyarakat,” ujar Taufik.
Menurutnya, revitalisasi dapat dilakukan melalui pemugaran atau pembangunan patung baru yang lebih proporsional, penambahan informasi sejarah, serta penataan kawasan yang lebih nyaman dan edukatif bagi pengunjung.
“Dengan posisi yang sangat strategis di jalur wisata Puncak, Patung Pramuka berpotensi menjadi ikon kepanduan Jawa Barat bahkan Indonesia. Kehadirannya dapat menjadi kebanggaan anggota Pramuka sekaligus memperkenalkan sejarah gerakan kepanduan kepada generasi muda dan masyarakat luas,” tambahnya.
Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Cisarua pun menyambut baik apabila upaya revitalisasi tersebut mendapat perhatian dari Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat. Melalui langkah tersebut, kawasan Tugu diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah kepanduan yang memiliki nilai edukasi, budaya, dan kebangsaan.
Penulis: Gunawan (Pusdatin Kwarda Jabar)
